Rss Feed

Puluhan Kapal Mewah Bakal Mejeng di Sunda Kelapa


Jakarta - Berlibur dengan kapal wisata atau yacht semakin marak di kalangan turis mancanegara. Tapi, belum banyak yang datang ke Indonesia. Pameran yacht pun dibuat pemerintah agar makin banyak turis kapal pesiar yang datang ke Indonesia.

"Indonesia Yachts Show 2013 ini pertama kali diadakan," kata Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Firmansyah Rahim, dalam jumpa pers Indonesia Yachts Show di Kemenparekraf Lt 14, Rabu (5/6/2013).

Firman pun memberi alasan kenapa pameran ini baru pertama kali diadakan. Menurutnya, laut Indonesia sangatlah luas tetapi hanya sedikit turis dengan yacht yang mampir di Indonesia.

Jika dihitung, setiap tahun ada sekitar 600-700 yacht berlayar di lautan Indonesia. Tapi, yang berlabuh hanyalah sedikit.

"Untuk itu kita berusaha memperkenalkan lewat acara ini. Selain itu, pameran ini juga dimaksudkan untuk menarik mengajak orang Indonesia untuk memiliki yacht," lanjut Firman.

Indonesia Yachts Show 2013 akan diselenggarakan di Batavia Marina, Sunda Kelapa Jakarta pada 8-9 Juni 2013 mulai pukul 10.00-19.00 WIB. Acara yang terselenggara atas kerjasama Kemenparekraf dan PT Megawatt Asia ini akan diikuti peserta dari dalam dan luar negeri.

"Dari 47 perserta yang ikut, dari dalam negeri ada 15 peserta," ungkap Marketing Director PT Megawatt Asia, Syelly Phie dalam acara yang sama.

Beberapa negara yang akan ikut serta dalam pameran tersebut adalah Inggris, AS, Korea, Taiwan, Singapura, dan Malaysia. Dalam acara tersebut, pengunjung akan diperlihatkan beberapa kapal pesiar dan berbagai alat yang berhubungan dengan yacht.

Sayangnya, tidak semua orang bisa datang ke pameran mewah ini. Hanya orang-orang dengan undangan saya yang bisa datang. Meski begitu, penyelenggara berharap ada 6.000 pengunjung datang dalam pameran ini.

"Untuk undangan kita spesifik. Untuk komunitas atau perusahaan industri marine, anggota Batavia Marina, klub golf, klub mobil," tutur Syelly.

source : detiktravel

Museum Tekstil

Jakarta - Kota Jakarta memiliki banyak museum yang menyimpan berbagai objek-objek bersejarah dan peninggalan masa lampau. Museum-musem ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan sangat penting untuk dipelajari oleh generasi sekarang. Tersebar di semua tempat di Jakarta, baik Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Timur hingga Kepulauan Seribu.

Kurangnya kesadaran akan pentingnya sejarah di mata masyarakat saat ini menyebabkan banyak museum-museum kurang diminati. Padahal, mengunjungi museum tidak kalah asyiknya dengan mengunjungi mall atau pusat hiburan lainnya di Jakarta.

Kali ini saya akan membahas salah satu museum dengan koleksi yang cukup unik, yaitu, Museum Tekstil.

Museum Tekstil yang belokasi di gedung tua di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, atau lebih tepatnya terletak di di Jalan Aipda. KS. Tubun 2-4, Indonesia ini merupakan sebuah lembaga edukatif kultural yang mengemban misi untuk melestarikan budaya tekstil tradisional Indonesia.

Awalnya gedung Museum Tekstil ini merupakan rumah pribadi dari seorang warga berkebangsaan Perancis yang dibangun pada abad ke-19, lalu kemudian dijual kepada seorang konsultan Turki bernama Abdul Azis Almussawi Al Katiri yang menetap di Indonesia. Dan kepemilikan selanjutnya beralih kepada Dr. Karel Christian Cruq pada tahun 1942.

Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan tahun 1947 didiami oleh Lie Sion Pin. Kemudian pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial. Pada tahun 1975, Bapak Ir. Safioen, Dirjen Tekstil Departemen Sosial yang juga merupakan anggota dari Kelompok Pecinta Kain Tradisional Indonesia WASTRAPREMA, memiliki ide untuk mendirikan Museum Tekstil. Pada saat itu tekstil tradisional nusantara tergeser dengan adanya tektsil modern yang mulai menarik minat masyarakat Indonesia. Kemudian di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1975, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Kemudian diresmikan penggunaannya sebagai museum tekstil oleh Ibu Tien Soeharto yang merupakan Ibu Negara pada saat itu, dan disaksikan oleh Bapak Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 28 Juni 1976.

Koleksi yang disimpan di Museum Tekstil ini adalah benda-benda yang berhubungan dengan tekstil yang berasal dari Indonesia dan sudah ada sejak abad ke20 hingga saat ini. Awalnya, koleksi tekstil di Museum Tekstil berjumlah 500 koleksi, yang kemudian dengan seiringnya waktu, koleksi Museum Tekstil saat ini berjumlah 1914 koleksi yang terdiri dari wastra, busana dan peralatan tekstil. Koleksi tersebut didapat melalui pembelian oleh Dinas Museum dan Sejarah / Dinas Museum dan Pemugaran / Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, serta sumbangan dari masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Selain untuk melihat tekstil pada masa lampau, kita juga bisa menikmati keindahan gedung yang masih sarat dengan arsitektural bergaya kolonial.

Koleksi yang ada di Museum Tekstil ini terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
-          Koleksi Kain Tenun
-          Koleksi Kain Batik
-          Koleksi Kontemporer
-          Koleksi Campuran
-          Koleksi Peralatan Pembuatan Batik/Tenun dan lain-lain

Di Museum Tekstil ini sering diadakan pameran, penyuluhan tentang tekstil, pelayanan konservasi tekstil, cara perawatan tekstil yang ada di museum, seminar, diskusi dan workshop tentang tekstil, dan berbagai macam kegiatan edukasi lainnya.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Jakarta - Sunda Kelapa atau yang dikenal dengan pasar ikan adalah sebuah nama pelabuhan tua di Jakarta yang terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Kala itu Kalapa, nama aslinya, merupakan pelabuhan kerajaan Pajajaran yang beribukota di Pakuan (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16, sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu Pajajaran, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera.

Pada abad ke 12, Pelabuhan Sunda Kelapa ini bernama Pelabuhan Kalapa. Pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa yang akhirnya dikuasai oleh Belanda. Nama Kalapa kemudian diganti oleh Belanda, meskipun nama tersebut pernah berganti beberapa kali sebelumnya. Namun pada tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi.

Awalnya Pelabuhan Sunda Kelapa dibangun dengan kanal sepanjang 810 meter yang kemudian diperlebar menjadi 1.825 meter. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki luas daratan 760 hektar serta luas perairan kolam 16.470 hektar, terdiri atas dua pelabuhan utama dan satu pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan utama memiliki panjang area 3.250 meter dan luas kolam lebih kurang 1.200 meter yang mampu menampung 70 perahu layar motor. Sedangkan Pelabuhan Kalibaru panjangnya 750 meter lebih dengan luas daratan 343.399 meter persegi, luas kolam 42.128,74 meter persegi, dan mampu menampung sekitar 65 kapal layar motor.

Karena bernilai sejarah tinggi dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah, saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa kemudian dijadikan destinasi wisata bahari di bawah naungan PT Pelindo II. Pelabuhan Sunda Kelapa ini masih difungsikan sebagai sebuah pelabuhan namun hanya untuk penyebrangan kapal antar pulau saja.

Untuk menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa, ada beberapa cara yang bisa digunakan. Jika tidak ingin pergi menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa dengan mudah mendapatkan taksi, atau Anda juga bisa menggunakan bus TransJakarta (koridor I, Blok M-Kota), dan berhenti Di Kota, dari stasiun Kota Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Anda juga bisa mencapai pelabuhan Sunda Kelapa dari Kota Tua.

Jika Anda ingin merasakan bermalam di Pelabuhan Sunda Kelapa, Anda bisa menginap di hotel yang sangat dekat dari pelabuhan ini, yaitu hotel Omni Batavia. Anda juga bisa menginap hotel-hotel di sekitar Kota Tua dan Jakarta.

Beberapa hal yang bisa dilakukan di Pelabuhan Sunda Kelapa adalah menyewa perahu yang banyak ditemukan di sekitar dermaga. Jika ingin berkeliling di darat Anda bisa menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki.

Anda bisa berkeliling di sekitar pelabuhan, berkunjung ke Museum Bahari yang menampilkan dunia kemaritiman Indonesia masa silam serta peninggalan sejarah kolonial Belanda masa lalu. Atau Anda bisa mengunjungi ke arah selatan pelabuhan untuk menyaksikan Galangan Kapal VOC dan gedung-gedung VOC yang telah direnovasi.

Anda juga bisa mengunjungi Kampung Luar Batang  yang bersejarah di sekitar pelabuhan ini, dahulau kampung ini merupakan lokasi pemeriksaan barang sebelum masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Jika Anda hobi berburu foto, pagi dan sore hari merupakan waktu favorit para pengunjung karena pemandangan dari kapal kayu yang berjejer dipadu dengan langit cerah menjadi latar belakang yang sangat bagus untuk berfoto. Selain itu Anda juga bisa mengabadikan suasana pelabuhan mulai dari bersandarnya kapal hingga bongkar muat.

Anda bisa mendapatkan olahan laut yang masih segar di Pasar Ikan. Anda bisa membeli olahan ikan segar untuk dimasak di rumah atau dimakan langsung. Atau jika tidak ingin repot, Anda bisa langsung menyantap makanan di restoran yang tersedia di daerah Pelabuhan Sunda Kelapa. Berikut rekomendasi restoran yang menyajikan olahan ikan segar;

Sunda Kelapa Restaurant

Jl. Ancol Barat IV No. 28-29 Pelabuhan Sunda Kelapa
Tlp:(021) 6908765, 6924954

Seafood Pondok Baronang Daeng Raja
Jl. Baruna Raya. Komplek Shipping Centre Blok A2 no 10 Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara. 
Tlp: (021)6925847 – 0813 10371776


Anda juga bisa melihat-lihat miniatur kapal di Museum Bahari atau wayang dari Museum Wayang yang terletak tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Pernak-pernik, kaos, postcards, gantungan kunci dan oleh-oleh khas lainnya dapat Anda temukan di toko yang menjual hasil kerajinan tangan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.


Jangan lupa mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal karena cuaca di Pelabuhan Sunda Kelapa cukup panas.

About Me!

Namanya Dita Pramiswary. Lahir di Jakarta, 04 Oktober 1992. Biasa dipanggil Dita tapi kadang suka mengenalkan diri sebagai Misa. Dita memiliki dua adik cowok yang masih duduk di bangku SMA bernama Muhammad Pahlevy Wisnu Wardana dan yang paling kecil duduk di bangku SD bernama Permana Jati. Lahir dari seorang ayah yang luar biasa pekerja keras dan selalu memberi petuah dan arti hidup dan ibu yang luar biasa sabarnya dalam menghadapi anak perempuan satu-satunya yang cocok disebut anak bungsu dengan segala sifat kekanak-kanakannya.
Dita memiliki golongan darah yang katanya merupakan golongan langka di dunia, yaitu AB. Percaya bahwa golongan darah merupakan salah satu pembuat karakter bagi seseorang. Dan Dita percaya, orang dengan golongan AB itu berada di antara jenius dan idiot. Orang dengan golongan AB berada di dunianya sendiri dan terkadang suka nyeleneh.
Pernah kuliah di Universitas Trisakti Fakultas Hukum, tapi merasa dunianya itu ada di jalan-jalan, makan, dan menulis sehingga diam-diam mendaftarkan diri di SNMPTN dan alhamdulillah lulus dan saat ini terdaftar menjadi mahasiswi di perguruan Tinggi Negeri Universitas Udayana Fakultas Pariwisata. Sempat salah pilih program studi karena seharusnya mengambil IPW (Industri Perjalanan Wisata) tetapi malah mengambil DPW (Destinasi Pariwisata). Namun sekarang sudah menikmati hidupnya di bangku kelas Destinasi Pariwisata bersama teman-temannya yang memiliki ragam karakter.
Dita sangat tergila-gila dengan Boyband asal Korea Selatan, Super Junior. Tergila-gilanya ini bukan semata-mata ikut-ikutan orang karena Boyband / Girlband asal Korea Selatan sedang booming, karena Dita sudah cukup lama mengenalnya.
Dita juga bercita-cita untuk mengelilingi seluruh Indonesia hingga ke pelosok, dan dengan bangga menuliskan semua pengalaman dan tempat yang pernah dijelajahinya untuk ditulis di blog ini. Sedikit terbesit juga pemikiran untuk mengunjungi Venice di Italy dan mencicipi seluruh kuliner dunia. Dan beberapa negara di Eropa serta mengunjungi Mekkah.
Dita memiliki banyak hobi, diantaranya adalah membaca buku dan berkhayal (karena terlalu banyak memiliki waktu senggang). Dita juga senang menonton dvd dengan genre apa saja, dan kadang hanya menyetel dvd tanpa ditonton dengan alasan kamarnya terlalu sepi sehingga suara percakapan di dvd bisa membuat kamarnya ramai. Menyukai karakter bebek dan sempat ingin memelihara bebek. Menulis juga merupakan salah satu hobinya dan memiliki cita-cita menjadi soerang penulis, tapi belum bisa menghasilkan tulisan utuh sampai saat ini. Pernah membuat Fan Fiction / Fiksi Penggemar / FF (sebutan yang dikenal luar untuk karya-karya yang dibuat penggemar yang berhubungan dengan cerita tentang para tokoh (atau tokoh fiksi), atau latar yang dibuat oleh penggemar dari sebuah karya asli, source: wikipedia (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Fiksi_penggemar)) dan sudah mulai menghentikan aktifitas membuat FF saat ini (bisa buka mellodi.wordpress.com untuk melihat hasil karyanya). Sering bermimpi suatu saat saldo di rekeningnya bertambah karena buku yang ditulisnya laku keras di pasar.